MPLS Ramah: Bagaimana Masa Pengenalan Siswa Berubah Menjadi Ruang untuk Membangun Perilaku Positif?

MPLS Ramah: Bagaimana Masa Pengenalan Siswa Berubah Menjadi Ruang untuk Membangun Perilaku Positif?
Setelah libur akhir tahun ajaran usai, suasana sekolah-sekolah di Indonesia kembali hidup dengan dimulainya kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah bagi siswa baru pada tanggal 14 Juli. Dalam suasana penuh semangat dan antusiasme, berbagai lembaga pendidikan menyambut peserta didik baru dengan program interaktif yang mendidik. Berfokus pada pembentukan karakter, penerapan kebiasaan hidup sehat, dan perilaku positif, sebagai bagian dari inisiatif Kemendikbudristek untuk menerapkan “Tujuh Kebiasaan Sehat Anak Indonesia”. Berbeda jauh dari praktik OSPEK lama yang sering kali diwarnai perundungan terselubung dalam bentuk humor dan tugas-tugas aneh yang tidak mendidik. Inisiatif tahun ini hadir dengan nama “MPLS Ramah” (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah yang Aman dan Bersahabat), yaitu program orientasi edukatif yang bertujuan memperkenalkan siswa baru pada lingkungan sekolah dalam suasana yang aman, mendukung, dan inspiratif. ### Dari Kekacauan Menjadi Kesadaran: Evolusi Masa Orientasi --- Dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan MPLS telah mengalami transformasi besar. Dulu, masa orientasi siswa baru — yang dikenal dengan istilah OSPEK di sekolah maupun perguruan tinggi — merupakan momen yang dinantikan dengan campuran rasa penasaran dan cemas. Sering kali siswa baru diminta membawa benda-benda aneh, mengenakan atribut lucu, atau melakukan tugas-tugas nyeleneh yang membuat mereka gugup namun sekaligus tertawa. Namun seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan sehat. MPLS kini meninggalkan praktik lama, dan bergeser menjadi program edukatif yang menekankan perilaku positif, kebiasaan hidup sehat, serta pembentukan karakter yang seimbang dalam semangat saling menghormati, disiplin, dan kerja sama. Pemerintah Indonesia pun telah melarang kegiatan yang bernuansa penghinaan dan perundungan, serta mengeluarkan regulasi tegas untuk memastikan masa pengenalan menjadi sarana pembelajaran yang positif, bukan ajang main-main tanpa tujuan. Nama kegiatan ini pun telah mengalami perubahan hingga akhirnya dikenal sekarang sebagai MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Beberapa sekolah atau kampus terutama yang berbasis kurikulum Islami, mengadopsi kata "Ta'aruf" yang artinya "Perkenalan" dalam bahasa Arab. Siti Ulfah, guru Science di Al-Mustaqbal, Malang, menjelaskan, "Di sekolah Al-Mustaqbal kami menggunakan nama "Ta'aruf Week" karena sekolah kami adalah sekolah Islam bilingual yang menggunakan bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran." Ia pun menanggapi perubahan signifikan dalam pelaksanaan MPLS dari masa lalu hingga kini, sembari mengenang pengalaman pribadinya saat menjadi siswa baru: "Kita bisa mengatakan bahwa masa pengenalan siswa sekarang jauh lebih baik dibandingkan dulu. Tujuannya bukan lagi untuk membuat siswa senior mempraktikkan intimidasi dan perundungan terhadap adik kelas dengan dalih humor, melainkan peran mereka kini lebih edukatif dan membimbing." ### Fokus pada Kebiasaan Sehat dan Perilaku Positif --- Dalam format terbarunya tahun ini, MPLS Ramah menjadi sarana emas untuk memperkenalkan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang dicanangkan pemerintah. Kegiatan dimulai dari senam pagi yang diiringi lagu bertema tujuh kebiasaan tersebut, hingga kebiasaan tidur lebih awal dan tidak begadang. Kebiasaan lainnya mencakup: komitmen menjalankan ibadah, kesungguhan dalam menuntut ilmu, menjaga kebersihan diri, dan etika dalam menggunakan media sosial. Para siswa juga diajak belajar tata tertib sekolah dengan cara yang menyenangkan dan mengikuti lokakarya seperti pertolongan pertama, keamanan lingkungan, pentingnya olahraga harian, dan pola makan sehat. Nilai-nilai seperti kerja sama, toleransi, pengendalian diri saat menghadapi konflik, serta kepedulian terhadap sesama, ditanamkan tanpa tekanan atau perlombaan yang tidak relevan. Siti Nurul, guru Kelas 1 SD di Al-Mustaqbal, menyatakan bahwa MPLS merupakan kesempatan emas untuk menyampaikan pelajaran hidup dengan pendekatan ilmiah. Ia menggunakan eksperimen "Jar of Life" (Toples Kehidupan) setiap MPLS untuk menyampaikan konsep "prioritas" dalam hidup. Dalam eksperimen ini, siswa diminta memasukkan batu, kerikil, dan pasir ke dalam toples/botol kaca — namun dengan urutan yang tepat. Menurut Siti Nurul, melalui eksperimen ini, siswa dapat memahami bahwa mereka bisa bermain dan menekuni hobi selama mereka telah menyelesaikan tugas utama dan kewajiban sekolah terlebih dahulu. ### Masa Pengenalan: Dari Sekadar Perkenalan Menjadi Sekolah Kehidupan --- Kini MPLS bukan lagi ajang main-main atau sekadar hiburan, melainkan ruang pembelajaran yang utuh. Sejak hari pertama, siswa dibentuk agar memahami bahwa sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga lingkungan untuk tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan berkarakter. Guru senior, Sorayya Al-Amri, dari Al-Mustaqbal, mengatakan, "Generasi baru, nilai-nilai baru — itulah yang kita saksikan selama beberapa tahun terakhir. Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun sebagai pendidik, saya sangat bersyukur melihat MPLS kini menjadi fondasi awal dalam membentuk karakter siswa dan menanamkan nilai-nilai pendidikan sejak hari pertama mereka di sekolah." Ia menambahkan, "Ini sangat membantu kami para guru, karena siswa sudah memahami aturan dan budaya sekolah tanpa harus terus-menerus diingatkan. Ini cerminan dari kemajuan kesadaran pendidikan dan sosial kita sebagai bangsa. Semoga terus membaik di masa depan InsyaAllah." Tidak ada lagi praktik perundungan yang dibungkus humor. Peran kakak kelas pun telah bergeser — dari “penguji nyali” menjadi “pemandu nilai”, yang bertugas membimbing dan menginspirasi adik-adiknya agar menjadi siswa yang tangguh secara moral dan sosial, tidak hanya di sekolah, tetapi sepanjang hayat.

Artikel Lainnya…